Surat untuk Raja

Surat untuk Raja

'Banyak bahaya akan mengancammu...'

Tiuri terduduk dengan tegak dan memandang ke jendela. Ia tidak melihat apa pun, tidak ada bayangan orang. Jadi, bisa saja tadi hanya khayalannya. Coba itu betul! Ia tidak mungkin menuruti permintaan suara itu, sekalipun terdengar begitu mendesak. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan berusaha mengusir pergi semua pemikiran dari dalam hatinya. Namun, sekali lagi ia mendengar suara itu. Sangat jelas, walaupun hanya berupa bisikan: ‘Dalam nama Tuhan, bukakan pintu!’

Tiuri melanggar peraturan, yang menyatakan ia tidak boleh berbicara dengan siapa pun pada malam menjelang pelantikannya menjadi kesatria. Ia membuka pintu.
Permintaan yang diajukan kepadanya ternyata tugas penuh mara bahaya. Tiuri diburu Pusu Pengendara Merah yang bermaksud jahat yang mengancam akan membunuhnya. Namun, ia bertekad mengantar surat yang sangat penting itu kepada Raja Unauwen. Pengorbanan Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih yang melepas nyawa demi surat itu tidak akan sia-sia....

Di Belanda, De brief voor de koning telah dicetak ulang 28 kali sejak pertama kali terbit pada 1962.

Kalangan pengamat buku anak menilai buku ini sebagai karya abadi yang memiliki semua hal yang mesti dimiliki sebuah buku anak yang bagus. Kisah menegangkan yang menghanyutkan pembacanya, tua maupun [close]
muda.


Next book
Back to Blog